Teknik Budidaya

Agribisnis 23-11-2009

*defri yenni
Bawang merah merupakan komoditas hortikultura yang memiliki banyak manfaat dan bernilai ekonomis tinggi serta mempunyai prospek pasar yang menarik. Selama ini budidaya bawang merah diusahakan secara musiman (seasonal), yang pada umumnya dilakukan pada musim kemarau (April-Oktober), sehingga mengakibatkan produksi dan harganya berfluktuasi sepanjang tahun.
Untuk mencegah terjadinya fluktuasi produksi dan fluktuasi harga yang sering merugikan petani, maka perlu diupayakan budidaya yang dapat berlangsung sepanjang tahun antara lain melalui budidaya di luar musim (off season). Dengan melakukan budidaya di luar musim dan membatasi produksi pada saat bertanam normal sesuai dengan permintaan pasar, diharapkan produksi dan harga bawang merah di pasar akan lebih stabil.
Tanaman yang bernama latin Allium ascalonicum ini menyukai daerah yang beriklim kering dengan suhu agak panas dan mendapat sinar matahari lebih dari 12 jam. Bawang merah dapat tumbuh baik di dataran rendah maupun dataran tinggi (0-900 mdpl) dengan curah hujan 300 – 2500 mm/th dan suhunya 25 derajat Celcius – 32 derajat Celcius. Jenis tanah yang baik untuk budidaya bawang merah adalah regosol, grumosol, latosol, dan aluvial, dengan pH 5.5 – 7.
Menurut Hendra , penggunaan benih bermutu merupakan syarat mutlak dalam budidaya bawang merah. Tanaman biasanya dipanen cukup tua antara 60 -80 hari, telah diseleksi di lapangan dan di tempat penyimpanan. Bibit yang digunakan untuk benih adalah berukuran sedang, berdiameter 1,5 – 2 cm dengan bentuk simetris dan telah disimpan 2-4 bulan, warna umbi untuk lebih mengkilap, bebas dari organisme penganggu tanaman.
Dalam pengolahan tanah dilakukan pada saat tidak hujan yakni 2 – 4 minggu sebelum tanam, untuk menggemburkan tanah dan memberi sirkulasi udara dalam tanah, tanah dicangkul sedalam 40 cm. Budidaya dilakukan pada bedengan yang telah disiapkan dengan lebar 100-200 cm, dan panjang sesuai kebutuhan.
Jarak antara bedengan 20-40 cm. Selanjutnya, kata Hendra lagi, penanaman dilakukan pada akhir musim hujan, dengan jarak tanam 10-20 cm x 20 cm.
Cara penanamannya, kulit pembalut umbi dikupas terlebih dahulu dan dipisahkan siung-siungnya. Untuk mempercepat keluarnya tunas, sebelum ditanam bibit tersebut dipotong ujungnya hingga 1/3 bagian. Bibit ditanam berdiri di atas bedengan sampai permukaan irisan tertutup oleh lapisan tanah yang tipis.
Pemeliharaan
Proses pemeliharaan meliputi penyiraman dengan menggunakan gembor atau sprinkle atau dengan cara menggenangi air di sekitar bedengan yang disebut sistem leb. Pengairan dilakukan secara teratur sesuai dengan keperluan tanaman, terutama jika tidak ada hujan.
Proses kedua, adalah pemupukan. Pupuk yang diberikan adalah pupuk kandang, dengan dosis 10 ton per hektar, pupuk buatan dengan dosis urea 100 kg per hektar, ZA 200 kg per hektar, TSP /SP-36 250 kg per hektar dan KCI 150 kg per hektar atau disesuaikan dengan kesuburan tanah.
Selanjutnya adalah proses penyulaman. Proses ini dilakukan apabila di lapangan dijumpai tanaman yang mati. Biasanya dilakukan paling lambat 2 minggu setelah tanam. Selain itu juga dilakukan proses pembumbunan dan penyiangan. Kegiatan ini dilakukan bersamaan pada saat tanaman berumur 21 hari.
Sementara pengendalian organisme penggantu tanaman (OPT) dilakukan tergantung pada serangan hama dan penyakit. Hama yang menyerang tanaman bawang merah adalah ulat tanah, ulat daun, ulat grayak, kutu daun dan nematoda akar.
Dijelaskan Hendra, ada proses yang tak kalah pentingnya. Yakni proses pengendalian hama. Proses ini dilakukan dengan cara sanitasi dan pembuangan gulma, pengumpulan larva dan memusnahkannya. Sedangkan pengolahan lahan untuk membongkar persembunyian ulat dilakukan dengan penggunaan insektisida, dan rotasi tanaman.
Lebih jauh dijelaskannya, penyakit yang sering menyerang bawang merah adalah bercak ungu, embun tepung, busuk leher batang, antraknose, busuk umbi, layu fusarium dan busuk basah.
Sementara panen dapat dilakukan bila umbi sudah cukup umur sekitar 60 hari setelah tanam. Ini ditandai daun mulai menguning, caranya mencabut seluruh tanaman dengan hati-hati supaya tidak ada umbi yang tertinggal atau lecet. Untuk satu hektar pertanaman bawang merah yang diusahakan secara baik dapat dihasilkan 10-15 ton.
Pasca Panen
Hendra menjelaskan, pengeringan umbi dilakukan dengan cara dihamparkan merata di atas tikar atau digantung di atas para-para. Dalam keadaan cukup panas biasanya memakan waktu 4-7 hari. Bawang merah yang sudah agak kering diikat dalam bentuk ikatan.Proses pengeringan dihentikan apabila umbi telah mengkilap, lebih merah, leher umbi tampak keras dan bila terkena sentuhan terdengar gemerisik.
Ikatan bawang merah dapat disimpan dalam rak penyimpanan atau digantung dengan kadar air 80% – 85% dan ruang penyimpnan harus bersih, aerasi cukup baik, dan harus khusus tidak dicampur dengan komoditas lain.
“Untuk varietas yang dianjurkan ditanam di dataran rendah yakni bima brebes. Varietas lokal asal Brebes ini mampu menghasilkan produksi sekitar 10 ton per hektar umbi kering dengan bobot susut panen mencapai 22%. Varietas ini dipanen pada umur 60 hari. Anakan dalam satu rumpun mencapai 7-12 buah. Di Brebes tanaman ini jarang berbunga. Umbi berwarna merah muda, bentuknya lonjong kecil dengan suatu cincin kecil pada cakram. Jenis ini cocok sekali untuk dikembangkan di dataran rendah,” jelas Hendra sembari menambahkan bima brebes resisten terhadap penyakit busuk umbi (Botrytis allii), tetapi peka terhadap penyakit busuk daun (Phytoptora porii).
Sedangkan varietas Medan, menurutnya banyak ditanam di daerah Samosir. Dipanen pada umur 70 hari dengan produksi rata-rata 7 ton per hektar umbi kering. Bobot susut varietas ini tergolong tinggi, yakni 25% dari bobot panen basah. Satu rumpun terdiri dari 6-12 anakan. Mudah berbunga, wama umbi merah, berbentuk bulat dengan ujung runcing. Jenis ini fleksibel untuk dataran tinggi maupun rendah. Varietas ini cukup resisten terhadap busuk umbi, tetapi peka terhadap penyakit busuk ujung daun.
Selanjutnya kata dia, varietas keeling, merupakan varietas lokal yang banyak ditanam di Majalengka. Produksinya agak rendah yakni 8 ton per hektar umbi kering dengan susut bobotnya hanya 15%. Umur 70 hari setelah tanam varietas ini sudah bisa dipanen. Satu rumpun memiliki 7-13 anakan, sukar berbunga, dan umbinya merah berbentuk bulat. Jenis ini cocok dikembangkan di dataran rendah. Keling cukup tahan terhadap busuk umbi, tetapi peka terhadap penyakit busuk ujung daun.
“Selain varietas di atas ada lagi jenis bawang merah, yakrni kuning dan bangkok. Sayangnya kemampuan produksinya rendah, hanya mampu menghasilkan 7 ton per hektar,” terangnya.

Artikel lainnya (Random)

Terpopuler Minggu Ini