Kembalikan Bawang Merah Sumut yang Terpuruk

Agribisnis 23-11-2009

*defri yenni
Sumatera Utara (Sumut) merupakan salah satu daerah penghasil bawang merah terbaik di Indonesia. Produksinya pun berton-ton bahkan sempat diekspor ke beberapa negara. Namun, itu hanya tinggal sebuah kenangan. Jangankan untuk diekspor, untuk memenuhi kebutuhan sendiri saja bahkan wilayah kecil seperti Samosir dan Hasundutan pun tak lagi mampu. Ya, daerah ini harus memasoknya dari luar Sumut. Ada apa dengan bawah merah Sumut? Mengapa petani tidak lagi tertarik dengan komoditas hortikultura yang satu ini?
Wilayah Propinsi Sumatera Utara merupakan wilayah yang cocok untuk tumbuh dan berkembangnya tanaman bawang merah dengan baik. Karena itu pula petani dengan giatnya mengembangkan komoditas yang satu ini. Bahkan karena harga yang selalu tinggi dan stabil membuat tanaman bawang merah sempat menjadi  idola para petani di Sumut khususnya di daerah dataran tinggi.
Sayang, penanaman yang tanpa mengenal waktu istirahat atau pola tanam yang tidak dilakukan secara bergilir, akhirnya membawa petani menderita kerugian yang luar biasa dari tahun ke tahun. Tingkat serangan hama dan penyakit yang cukup tinggi kerap menyerang tanaman tersebut. Petani sering mengalami gagal panen.
“Dan, sekarang petani merasa trauma untuk mengembangkan tanaman bawang merah. Mereka (petani-red) beralih ke komoditas lain yang lebih aman dari serangan hama dan penyakit,” kata Marketing Representative PT East West  Seed Indonesia Wilayah Sumut dan Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), Hendra Cipta Sidabutar, ketika ditemui MedanBisnis, beberapa waktu lalu di Medan.
Menurut Hendra, kegagalan petani menanam bawang merah menyebabkan petani tersebut frustasi, apalagi bila dikaitkan dengan tingkat kerugian yang mereka alami. “Secara umum modal untuk menanam bawang ini nggak beda jauh dengan menanam jenis sayuran lainnya. Namun jika terlalu sering dan secara berulang-ulang terus merugi pasti petani tidak tertarik lagi untuk mengembangkannya,” katanya lagi.
Dikatakannya, pola tanam awal yang salah membuat petani harus merasakan dampak yang cukup besar hingga saat ini. “Pola tanam yang dilakukan secara terus-menerus sangat tidak baik, karena berarti sama dengan menumbuhkembangkan jamur yang ada di sekitar tanaman bawang merah tersebut. Jamur itu akan terus tumbuh seiring dengan pertumbuhan bawang merah yang ada di sekitarnya. Penanaman yang terus-menerus tanpa jeda waktu mengakibatkan jamur semakin berkembang biak. Dan, inilah yang akhirnya merusak bahkan mematikan tanaman bawang itu sendiri,” terang Hendra.
Harusnya, kata Hendra, penanaman bawang merah dilakukan secara selang-seling. Karena tanaman ini sangat cocok hidup di persawahan maka tak ada salahnya jika pola tanamnya diselang-selingi dengan penanaman padi di sawah atau mungkin tanaman lainnya.
Selain karena pola tanam yang salah, keterbatasan bibit juga menjadi salah satu alasan kegagalan petani Sumut dalam memanen bawang merah. Menurut Hendra, petani sangat kesulitan mencari bibit bawang merah yang baik. Kebanyakan petani bawang merah langsung menjual bawang merah dalam bentuk umbi dan tidak menyiapkan bawang merah untuk bibit yang akan ditanam selanjutnya.
Sehingga saat akan menanam bawang merah kembali mereka kebingungan. Makanya saat melakukan penanaman mereka banyak yang menggunakan umbi bawang merah, yang kualitasnya lebih rendah dibandingkan dengan bibit yang berasal dari biji. Bahkan seringkali juga petani membeli umbi-umbi bawang merah yang jenis dan kualitasnya tidak dapat dipastikan. “Inilah penyebab lain petani kita mengalami gagal panen. Karena bibit yang mereka peroleh sembarangan yang ketahanannya tidak bisa dipastikan,” kata Hendra lagi.
Dibandingkan dengan bibit dari umbi bawang merah, bibit bawang merah berupa biji jauh lebih baik kualitasnya. Selain itu, biaya produksi bawang merah yang menggunakan bibit dari biji lebih murah dibandingkan bibit dari umbi. “Besaran persentasenya bisa mencapai lebih dari 50%,” ungkapnya.
Sebagai bandingan, kata Hendra, untuk satu hektar bibit bawang merah yang berasal dari umbi dibutuhkan biaya sekitar  Rp 10,5 juta, sedangkan bibit dari biji hanya membutuhkan biaya sebesar Rp 4,8 juta,” jelasnya.
Begitu pun dari hasil produksi, produksi bawang merah dari biji jumlahnya bisa lebih besar dibandingkan dengan produktivitas bawang merah dari umbi. “Produktivitasnya bisa lebih besar dari umbi, perbedaannya bahkan bisa mencapai 30 persen  lebih,” ungkap lajang alumnus Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara (USU) ini.
Selaku pihak yang bekerja sebagai konsultan petani, khususnya bawang merah, pihaknya mengimbau petani bawang merah Sumut untuk  mengembalikan kejayaan komoditas bawang merah. “Sekarang ini sudah tak sulit lagi kan, sudah ada bibit bawang merah dari biji yang kualitasnya lebih menjanjikan. Jadi, para petani nggak perlu lagi takut menanam bawang merah, tinggal minat petaninya saja,” ungkap Hendra.

Artikel lainnya (Random)

Terpopuler Minggu Ini