H Idul Ajie: PHK Membuka Ide untuk Berwirausaha

Rubrik Khusus 04-05-2009

*cw-12/hasan
PEMUTUSAN hubungan kerja (PHK) ternyata bisa membawa hikmah bagi sebagian orang. Setelah terkena PHK, seseorang harus berpikir keras agar tidak menganggur dan ekonomi keluarga bisa tetap berjalan. Ide berwirausaha pun akhirnya muncul. Kondisi pun berubah, dari sebelumnya sebagai buruh yang menerima upah menjadi ‘bos’ yang memberi upah bagi pekerjanya.
Cerita seorang mantan buruh yang memutuskan untuk berwirausaha setelah terkena PHK dan sukses dalam menjalankan usahanya, memang bukanlah cerita baru. Telah banyak anak negeri ini yang membuktikan bahwa akibat terkena PHK dari sebuah perusahaan tempat ia bekerja sebelumnya, malah menjadi ‘cambuk’ dan memunculkan jiwa enterprineurship nya untuk membuka usaha mandiri, dan berhasil. Jadi bagi mereka, PHK bukan akhir segalanya. Tapi malah dijadikan sebagai batu lompatan untuk survive membenahi ekonomi keluarga.
Itu pulalah yang dilakukan oleh H Idul Ajie (40), warga Jalan Pukat Banting VIII Medan. Setelah terkena PHK dari sebuah perusahaan elektronika di Kawasan Industri Medan (KIM) pada 2003 lalu, malah membuka jalan baginya dan keluarga untuk membuka usaha sendiri. Bermodalkan Rp12 juta hasil uang pesangon yang ia terima, Idul pun membuka usaha home industri di rumahnya. Bisnis makanan ringan, itulah usaha yang dipilihnya.
Kepada MedanBisnis yang menjumpainya di tempat usahanya yang diberi nama Syafa dan Pawas Jaya, Jum’at (1/5) lalu, Idul bercerita tentang usahanya. Menurutnya, sebenarnya ide awal bisnis makanan ringan pembuatan kue-kue kering ini muncul dari istrinya Siti Saleha (37).
“Setelah terkena PHK saya sempat bingung bagaimana kelanjutan kehidupan keluarga saya. Apalagi waktu itu istri saya sedang hamil tua. Istri saya juga sempat bingung, lalu kemudian muncul idenya agar uang pesangon yang didapat digunakan membuka usaha membuat kue-kue kering. Ibu mertua kebetulan sangat mahir dalam pembuatan kue-kue kering,” kisah nya.
Setelah niat telah bulat, ia dan istrinya pun kemudian pergi ke rumah mertunya di Binjai untuk belajar membuat kue. “Sekitar 1 bulan saya dan istri saya ‘berguru’ pada ibu mertua untuk membuat beragam jenis kue. Dan pelajaran yang dapat itu semakin membulatkan tekad saya hingga akhirnya berdirilah usaha ini,” sebutnya bangga sembari meneguk secangkir teh manis dingin yang disiapkan istrinya di siang yang terik itu.
Ayah dari Syafa (7), Pawas (5) dan Najwa (3) ini, mengaku sangat bersyukur dengan apa yang telah ia dapat, mulai dari pekerjaan, usaha, keluarga dan tingkat eko-nomi keluarga yang cukup mapan saat ini.
Lebih jauh Idul menjelaskan, home industri yang ia buka pada awalnya hanya mempekerjakan sebanyak 10 orang pekerja. Sedangkan produk makanan ringan yang dihasilkan dari usahanya berupa kue kacang, kue nenas, roti potong dan roti kelapa. Para pekerja ia beri tugas sebagai tukang adon, tukang cetak dan tukang bakar kue. Sedang untuk pemasaran langsung ia tangani sendiri. Sementara istri bertugas dibidang keuangan.
“Saat ini kami telah memiliki banyak pelanggan di dalam dan luar kota. Jadi saya dan pekerja saya tinggal mengantarkan produk kue yang telah jadi ke warung-warung, kedai, toko-toko, grosir dan agen pemasaran. Di samping itu saya juga turus mencari pelanggan baru untuk memperluas pasar,” sebutnya.
Berkat keuletan Idul dan istrinya, saat ini pemasarannya tidak hanya di seputar Kota Medan, tetapi ia juga telah berhasil meluaskan jaringan pemasarannya hingga ke Deliserdang, Binjai, dan luar propinsi seperti Aceh, Pekan Baru, Jambi dan Padang berkat kerja samanya dengan sejumlah agen pemasaran. “Saya memang terus gencar mempromosikan produk saya melalui agen pemasaran. Selain itu saya juga turun langsung ke daerah-daerah dan propinsi lain untuk menjajaki peluang pemasaran di sana dan akhirnya berhasil,” aku Idul yang saat itu mengenakan baju koko putih senada dengan sendal kulit yang dikenakannya.
Keberhasilan yang didapat Idul saat ini bukanlah tanpa melalui ujian dan perjuangan yang ringan. Idul mengisahkan, pada awalnya ia banyak menghadapi tantangan untuk memasarkan produknya. Awalnya ia pasarkan sendiri produk kue-kue buatannya secara door to door. Pagi-pagi sekali ia sudah jalan mendatangi warung yang satu ke warung yang lain. Banyak yang menolak membeli bahkan untuk dititip menjualkan pun banyak yang tidak mau. Tapi itu tak membuat ia patah semangat.
“Dengan sepeda motor butut saya, waktu itu saya terus mencari pasar. Panas dan hujan tak saya pedulikan, asal kue tidak rusak saya terus jalan. Dan itu saya jalani lebih dari dua tahun. Alhamdulillah berkat kerja keras saya Allah SWT memberi pertolongan. Saat ini pasar bagi produk-produk saya telah terbuka. Kamipun kini telah menambah jenis produk tidak lagi hanya kue-kue kering tetapi juga telah memproduksi kue bolu dan juga kue tar,” jelasnya.
Pihaknya juga kerap menerima pesanan pembuatan kue untuk acara ulang tahun dan lainnya. Dan pada menjelang peringatan hari besar seperti Lebaran dan Natal, pihaknya juga selalu kebanjiran order untuk pembuatan beragam jenis kue.
“Pada saat-saat menjelang hari besar keagamaan, kita selalu keteter untuk melayani banyaknya pemesanan. Dan karena produksi kita terus bertambah, saya juga telah menambah jumlah karyawan saya. Saat ini saya sudah dibantu oleh 80 orang karyawan, terdiri dari tukang adon, marketing, tukang antar barang, supir, tukang ngepak, tukang cetak serta beberapa orang dibagian administrasi,”akunya.
Terhitung perbulannya ia bisa mengantongi keuntungan berkisar antara Rp10 – 20 juta bersih, diluar biaya produksi dan gaji karyawan. Dengan penghasilan sebesar itu, perekonomian keluarga Idul pun kini semakin meningkat. Kini, untuk mengantarkan produknya ke pelanggan, ia tidak lagi harus pergi sendiri dengan sepeda motor bututnya mengarungi hujan dan panas terik matahari di luar sana. Karena sepeda motor bututnya itu kini telah terparkir rapi di sebuah sudut ruangan untuk mengingatkannya akan perjuangan berat di awal-awal ia merintis usahanya.
Kini, armada pemasaran berikut personilnya telah tersedia. Kapan ada pesanan, di mana lokasinya. Ia hanya tinggal ‘perintah’ pada karyawannya, dan pesanan pun segera meluncur. Demikian juga untuk pelanggan, ia telah memiliki jadwal untuk menugaskan karyawannya mengantarkan produk ke masing-masing pelanggan. Idul pun kini telah tersenyum ceria bersama keluarga. Ternyata, Pemutusan Hubungan Kerja yang Idul dapat dari tempat ia bekerja semula telah membawa berkah baginya. Lantas, bagaimana bagi sejumlah karyawan yang saat ini juga telah terkena ancaman PHK. Akankah PHK menjadi akhir dari segalanya ?

Artikel lainnya (Random)

Terpopuler Minggu Ini