Rupiah Terancam hingga Juni

Halaman Depan 25-03-2009

MedanBisnis – Jakarta
Nilai tukar rupiah diperkirakan akan menghadapi tekanan hingga Juni 2009, karena permintaan dan penawaran yang belum seimbang, kata Anton Gunawan seorang ekonom.
Menurut Chief Economist dari PT Bank Danamon Indonesia Tbk ini, sangat sulit untuk mengatakan nilai tukar rupiah akan menguat hingga mencapai Rp10.000 per dolar AS. “Sampai Juni, tekanan terhadap nilai tukar rupiah masih ada,” katanya, di Jakarta, Selasa.
Sebelumnya Gubernur Bank Indonesia mengatakan optimis rupiah akan terus menguat dari level saat ini mengingat pasokan dolar AS mulai melimpah lagi di pasar global, selain didorong keputusan The Fed untuk membeli surat utang pemerintah AS dengan nilai lebih dari US$ 1 triliun yang tujuannya ikut membantu ekonomi AS yang sedang kesulitan likuiditas.
Sementara kurs rupiah terhadap dolar AS di pasar spot antarbank Jakarta, Selasa sore masih bergerak naik, namun kenaikan itu agak berkurang dibanding sesi pagi yang naik hampir mencapai 200 poin, karena pelaku masih agresif membeli rupiah. Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS naik menjadi Rp11.420/11.450 per dolar dibanding penutupan hari sebelumnya Rp11.550/11.560 per dolar atau naik 130 poin.
Tapi Anton Gunawan menyebutkan tekanan terhadap nilai tukar rupiah antara lain efek dari merosotnya nilai ekspor sejak akhir tahun lalu.”Masih ada efek ekspor yang turun, sementara penurunan impor lebih lambat daripada penurunan ekspor sehingga permintaan dolar masih ada, sementara supply (dari ekspor) sudah berkurang,” jelasnya.
Menurut dia, adanya pinjaman siaga yang diberikan sejumlah lembaga internasional dan negara lain, memang membantu meredam tekanan terhadap nilai tukar rupiah.”Sebenarnya itu akan lebih efektif jika memang benar-benar di-disburse (dicairkan) untuk memperkuat cadangan devisa. Namun ada kendala karena standby loan itu untuk budget support, bukan untuk cadangan devisa. IMF tidak akan suka jika ini dilakukan,” katanya.
Mengenai dampak kegiatan kampanye dan pemilu terhadap laju inflasi, Anton Gunawan tidak melihat adanya hubungan kuat antara inflasi dengan daya beli masyarakat semasa kampanye.”Inflasi terjadi kalau supply dan demand tidak imbang. Pemilu ini dengan segala macam kebutuhannya, kan sudah diantisipasi, banyak pihak yang sudah mempersiapkan logistiknya. Jadi seharusnya tidak akan terlalu banyak mengakibatkan inflasi naik tinggi,” katanya.
Dia memperkirakan, inflasi bulanan pada Maret ini hanya akan mencapai sekitar 0,2 persen saja.”Bahkan bisa lebih rendah karena tertolong oleh masa panen yang mengakibatkan inflasi terdorong ke bawah,” katanya. (ant/dtf)

Artikel lainnya (Random)

Terpopuler Minggu Ini